BERANDA

Sabtu, 01 Mei 2010

BELAJAR KELOMPOK

1) Pengertian Belajar Kelompok

Menurut Abu Ahmadi, (2004: 111) belajar kelompok merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk membahas suatu materi dalam pelajaran yang sedang dihadapinya.

Nana S. Sukmadinata (dalam M. Jumarin, 2000 : 50) mengemukakan pengertian bimbingan kelompok yaitu “usaha penyuluh pendidikan atau guru untuk membantu anak atau siswa yang berlangsung dalam situasi kelompok”.

Layanan bimbingan kelompok bisa diberikan secara klasikal di kelas maupun non klasikal, layanan ini memberi banyak kesempatan untuk menyampaikan berbagai informasi yang terkait dengan bimbingan pribadi, sosial, belajar, karir dan layanan-layanan pada point di atas sekaligus menggali permasalahan siswa sebagai salah satu bentuk upaya menjemput bola. Selain dapat memberi informasi, bimbingan ini juga mempermudah observasi terhadap anak dalam berperilaku di kelas, juga menggali berbagai data yang diperlukan untuk menyempurnakan bimbingan.

Kedudukan seorang siswa dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan.

Jadi bimbingan belajar kelompok suatu proses pemberian bantuan kepada sekelompok individu (siswa) dalam situasi kelompok secara berkelanjutan dan sistimatis, oleh seorang ahli yang telah terlatih (guru/pembimbing) agar individu (siswa) dalam kelompok itu secara optimal mampu mengatasi kesulitan belajarnya, mengembangkan potensi belajarnya, untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam belajarnya.

Di samping menyampaikan materi, pembimbing juga berperan sebagai komunikator, motivator, manager belajar, evaluator, fasilitator, konselor, dan perancang belajar.



2) Tujuan dan Manfaat Bimbingan Kelompok

Samsudin (dalam Jumarin, 2000 : 63) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok belajar mempunyai tujuan:

a) Dapat menguasai ilmu pengetahuan dan kecakapan secara bersama-sama.

b) Dapat mengatasi kesulitan-kesulitan, terutama dalam belajar bersama-sama.

c) Dapat belajar bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan khususnya dalam belajar dari anggota kelompok yang lain.

d) Membiasakan menghargai pendapat dan usulan orang lain.

e) Berlatih belajar mengeluarkan ;pendapat dan usul kepada orang lain.

f) Dapat memupuk gotong-royong bagi anggota kelompoknya.



Manfaat bimbingan belajar kelompok :

a) Belajar dalam kelompok belajar dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan dan dinamis karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Agar efektif dan tidak berubah menjadi bermain diperlukan pembimbing

b) Tersedianya kondisi belajar yang nyaman,

c) Mudah saling memberi informasi,

d) Dapat menghemat biaya untuk sarana belajar karena siswa dapat saling berbagi pakai fasilitas atau sarana belajar,

e) Terperhatikannya karakteristik pribadi siswa,

f) Siswa dapat mereduksi kemungkinan kesulitan belajar,

g) Sedangkan manfaat bagi guru/konselor adalah membantu menyesuaikan program pembelajaran agar sesuai dengan karakteristik siswa dan memudahkan dalam pengembangan potensi siswa secara menyeluruh.

h) Siswa dapat berperan aktif dalam mengelola pengetahuan yang telah dimiliki untuk memecahkan suatu masalah. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah melalui belajar secara kelompok dapat membantu siswa tersebut meningkatkan prestasi belajarnya

i) Dengan belajar kelompok, dapat ditumbuhkembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap siswa. Siswa dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina kesetiakawanan sosial antara siswa dengan siswa. (Syaiful Bahri Djamrah dan Aswan Zain 2002:63)

j) Dapat membantu siswa dalam rangka bertukar pikiran mengenai soal-soal yang akan dibahas tersebut, kebiasaan tukar pikiran antara siswa yang satu dengan siswa yang lain akan memacu cara belajar untuk lebih mengetahui banyak tentang objek atau bahan yang sedang dipelajari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berikan komentar anda sebelum meninggalkan blog ini: